Perusahaan Jepang hasil patungan FujiFilm Holding Corporation dan Xerox Limited ini memilih memusatkan bisnisnya tak melulu pada pengembangan produk, melainkan peningkatkan pelayanan dan menciptakan solusi yang bisa membantu konsumen mengatasi krisis. Produk yang dikembangkan secara khusus dirancang untuk menunjang solusi perusahaaan dalam hal efisiensi, penghematan jumlah pegawai, dan ongkos.
“Kami utamakan bisnis pelayanan dan solusi untuk membantu konsumen mengatasi masalah perusahaan,” papar Tadahito Yamamoto, Presiden Fuji Xerox, saat menerima sejumlah media dari kawasan Asia Pasifik, termasuk Tempo, beberapa waktu lalu di Tokyo, Jepang.
Setelah beberapa tahun terakhir tak lagi dikenal hanya sebagai mesin foto kopi, cetak dan scanning, Fuji Xerox siap meluncurkan solusi terbaru di awal 2010, antara lain solusi untuk membandingkan sekaligus menunjukkan perbedaan dari dua imej (dokumen) serupa. Solusi berteknologi InkLifting ini, orang tak perlu memelototi dua dokumen serupa untuk mencari perbedaanya. “Biar mesin kami yang mencari,” kata Kiyoshi Saito, Senior Vice President Fuji Xerox saat memperagakan mesin terbaru, ApeosPort-III C3300 dengan solusi InkLifting Technology.
Solusi lainnya adalah teknologi scanning sekaligus menterjemahkan bahasa dokumen. Untuk sementara, mesin fotokopi pintar ini menterjemahkan dokumen dari dan ke bahasa Jepang, Inggris, Cina dan Korea. Solusi berikutnya adalah E-Paper (Electronic Paper) yang akan membantu perusahaan berhemat dalam pendokumentasian informasi maupun data. “Produk ini selain ramah lingkungan juga berteknologi masa depan yang efisien,” Saito menekankan.
Yamamoto menambahkan, bisnis inti Fuji Xerox yakni global services dan production services. Untuk menunjang itu, markas perwakilan pun dipindahkan, tak lagi di Tokyo melainkan di Singapura. “Kami mengantisipasi, penjualan akan lebih tumbuh di Asia Pasifik, ketimbang Jepang,” ucapnya.
Krisis yang sudah terasa sejak tahun lalu itu, menurut dia, telah pula mengubah perspektif perusahaan apapun. Yang paling utama adalah pemotongan biaya operasional dan investasi. Yamamoto mengakui, perusahaan yang memiliki 42 ribu pegawai ini pun tak mampu menghindar dari lonjakan harga minyak mentah dan besi yang telah melambungkan harga bahan baku mesin-mesin yang diproduksinya.
Tambahan lagi, nilai tukar yen mengalami apresiasi yang begitu cepat. “Dampaknya negatif buat kami,” Yamamoto memaparkan. Namun, di sisi lain, dia melanjutkan, efisiensi melalui pemangkasan biaya juga memberikan dampak positif. Pada semester pertama tahun ini, pendapatan Fuji Xerox memang menurun 1,4 persen menjadi 566 miliar yen (sekitar Rp 62,3 triliun dengan kurs Rp 110 per yen). Tapi perusahaan mencatat kenaikan laba operasional sebesar 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. “Laba operasional 42 miliar yen (Rp 4,6 triliun),” Yamamoto menuturkan.
disunting dari www.tempointeraktif.com


Posting Komentar